seorang bapak bingung:f::f::f::f: cara memperlakukan anaknya yang masih kecil.
Dia mencari cara bagaimana mengelola kemarahan si kecil.suatu hari dia
berkata kepada anaknya:"anakku,bapak ingin kamu membawa paku-paku
ini."katanya sambil menyerahkan sebuah kotak penuh berisi paku.di tangan
satunya dia memegang sebuah palu.lalu dia berkata lagi:"setiap kali kamu
kesal atau marah,ambil satu paku dan tancapkan ke dinding memakai palu
ini.:"hal ini agar kamu selalu ingat dan mampu mengendalikan dirimu ketika
marah.sang anak menuruti kata-kata bapaknya. sejak itu setiap kali ia marah,:f:
ia menancapkan satu paku ke dinding.semakin sering ia marah,maka jumlah
paku yang ditancapkanya semakin banyak.:l:
sudah tentu pada hari pertama terlihat pemandangan yang mengerikan.
sekian banyak paku telah tertancap di dinding secara tidak beraturan.
pemandangan itu menunjukkan betapa temperamentalnya orang yang
melakukannya.si bapak melihat pemandangan itu dengan rasa sedih.dia
mulai menyadari seberapa besar problem yang akan dihadapinya jika keadaan
seperti itu terus berlangsung.
tapi seiring dengan berlalunya waktu,jumplah paku yang tertancap secara
bertahap berkurang. sampai suatu hari tidak terlihat satu paku pun
yang tertancap di dinding itu.si anak berlari menemui bapaknya dengan
penuh suka cita. ia berkata:"bapak,lihatlah, hari ini tidak ada satu paku pun
yang aku tancapkan!"kemudian dengan bijak bapaknya berkata:"bagus!
sekarang kita akan melakukan latihan yang berbeda.kamu harus melakukan
hal yang sebaliknya dari yang kamu lakukan kemaren-kemaren.pada setiap
hari yang kamu lalui tanpa rasa marah atau kesal,kamu harus mencabut satu
paku dari dinding itu."
si anak menatap dinding yang di tunjuk bapaknya.dia melihat sekian
banyak paku telah tertancap di sana.tapi dia tetap patuh pada keinginan
bapaknya.mulailah ia menjalani ujian itu.dan demikianlah,hitungan balik
terjadi.jiwa anak semakin stabil dan baik,serta mampu menguasai setiap
gelombang kekesalan yang menyerangnya.lama-kelamaan kondisi kejiwaan
anak tersebut semakin baik.seiring dengan semakin kurangnya jumplah paku
yang tertancap di dinding.
hingga suatu hari si anak menghambur ke arah bapaknya dengan wajah dipenuhi
kebahagiaan dan kemenangan.ia berkata:"bapak,semua paku telah tercabut.aku
merasa senang sekali hari ini."sang bapak tersenyum.dia meraih tangan anaknya
yang mungil lalu mendekatkannya ke dinding.lalu dia berkata:"taruhlah jari-jarimu
yang mungil itu ke dalam lubang-lubang itu.dapatkah kamu merasakannya?"si anak
terdiam malu,lalu berkata:"ya,ini semua adalah kenang-kenangan dari hari-hari yang
buruk."kemudian sang bapak menyambung:"anakku,kesalahan-kesalahan yang
kita lakukan serupa dengan lubang-lubang ini.dan setiap perkataan serta kekesalan
adalah luka yang nyata.jika kamu menikam seseorang dengan pisau,kemudian
kamu mencabut pisau itu dari dagingnya sambil seribu kali mengucapkan kata maaf,
maka kata-katamu iu tidak akan dapat menjadi yang menutup luka itu.luka
itu tidak akan pernah kembali seperti semula.ia tetap akan menyisakan bekas luka
yang tidak akan hilang sampai mati.
nah,jiwa kita pun seperti itu.jika kamu berbuat baik kepada seseorang
sepanjang tahun,lalu kamu berbuat jahat sekali aja padanya,maka dia tidak
akan melupakan kejahatanmu itu selamanya.kecuali dia orang berhati
mulia.tapi umumnya manusia tidak berhati semulia itu.sebagaimana ciri
luka yang pasti meninggalkan bekas,demikian pula hukum yang berlaku bagi
jiwa atau hati kita jika terluka,dan yang lebih berbahaya,jika hancur lebur."
seorang penyair bersenandung:
luka akibat gergaji masih dapat di sembuhkan .tapi luka karena kata-kata
lisan tak pernah ada obatnya.
penulis:KARIM ASY-SYADZILY
cetakan:1:april 2010
diterbitkan oleh:PUSTAKA ISFAHAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentar anda sebagian dari sukses kami
silaturohim menambah rejeki menjauhkan permusuhan.
akuuur.....